Home

Fatima seorang anak Petani

Categorie(s): Indonesian cases

Fatima seorang anak Petani

Fatima, a farmer’s daughter

Pak Rahman adalah seorang petani yang tinggal di desa terpencil. Dia memiliki anak perempuan bernama Fatima. Fatima adalah anak yang pintar. Dia amembantu orangtuanya setiap hari di kebun. Dia berumur 7 tahun, usia yang sudah layak untuk sekolah.
Pak Rahman is a farmer who lives in a remote village. He has a daughter named Fatima. She is a very clever girl. She helps her parents everyday in the garden. She is 7 years old, time to go to school.

Pak Rahman berpikir bagaimana caranya agar anak perempuannya bisa sekolah. Rumah mereka jauh dari sekolah dan tidak tersedia transportasi. Beberapa kerabat keluarga berkata bahwa tidak penting mengirim anak perempuan ke sekolah
Pak Rahman has been thinking about how to get his daughter to school. Their home is far away from the school. There is no transportation there. Some older relatives say that it is not necessary to send a girl to school, but Fatima’s parents want to give her a good education

Pertanyaan:

Questions:

1. Apa yang harus Pak Rahman katakana kepada kerabatnya untuk menjelaskan bahwa Fatima harus sekolah?
1. What should Pak Rahman say to his relatives to make clear that Fatima must go to school?

2. Jika Pak Rahman tidak mampu membayar sekolah, karena jarak sekolah yang jauh dari rumahnya, bagaimana caranya dia bias mendapatkan dana/bantuan?
2. If Pak Rahman is not able to pay for the school, because the school is far away from his place, how could he get the funding?

3. Jika Fatima tidak mau berpisah dengan orangtuanya jika dia pergi ke sekolah, bagaimana seharusnya orangtuanya menjelaskan ke Fatima bahwa sekolah itu penting?
3. If Fatima does not like to live separate from her parents if she goes to school, how should the parents explain to her that it is important?

4. Anak perempuan yang mendapatkan pendidikan yang baik dapat memainkan peran yang penting dalam masyarakat untuk membuat kehidupan mereka lebih baik dan membawa kesejahteraan. Anak-anak mereka akan lebih sehat dan memiliki kesempatan hidup yang lebih baik. Bagaimana hal itu bias terjadi?
4. Girls getting a good education can play an important role in their community to make life healthier and bring more welfare. Their children are healthier and have a better chance to grow up. Why it that?

5. Perempuan yang terdidik adalah hal yang baik untuk komunitasnya (keluarga, desa, dan wilayah tersebut). Cari contoh perempuan yang membuat kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat di desanya, dan siapa yang bias melakukan hal ini karena mereka telah bersekolah.
5. Educated women are good for their community (family, village, region) Find examples of women who made live in the village (region) better for many people, and who could do this because they had been to school.

6. Wawancarailah seorang (atau lebih wanita dan tanyakan mengapa pendidikan sangat penting bagi mereka.
6. Interview one (or more) of these women and ask why their education has been important to them.

7“Pembangunan berkelanjutan hanya akan berhasil bila semua anak mendapatkan kesempatan untuk sekolah”.
Diskusikan hal ini dan cari alas an untuk pernyataan tersebut.
7. “Sustainable development can only succeed when all children get a chance to go to school.”
Discuss this and collect arguments for this statement.

8 Pendidikan untuk anak perempuan adalah aspek penting dalam pembangunan berkelanjutan. Buatlah poster dengan tulisan – atau tulislah lagu, atau buat permainan, untuk menjelaskan hal ini kepada masyarakat disekitarmu.
8. Education for girls is an important aspect of sustainable development. Make a poster with this text – or write a song, or make a play, to make this clear to people around you.

Latar belakang Informasi

Ketidakseimbangan pendidikan antara perempuan dan laki-laki.
Background information:
Imbalance education between women and men.[/I]

Di Dunia yang moderen ini masih terdapat diskriminasi dalam tingkat pendidikan antara anak laki-laki dan perempuan terutama di daerah pinggiran kota. Banyak orang tua berpikir bahwa anak laki-laki memiliki kemampuan lebih untuk mendapatkan pendidikan dan akan membawa tanggung jawab yang lebih di kehidupan yang akan dating, sedangkan wanita mungkin hanya akan menjadi istri, walaupun jika mereka mendapatkan pendidikan.

In this modern world there is still discrimination in education level between boys and girls especially outside the cities. Many parents think that boys have more ability to take on education and will carry more responsibility later in life, while girls probably only became housewife, even if they have had an education.

Disisi lain banyak masyarakat yang tidak sadar tentang keluarga berencana. Keluarga memiliki banyak anakan dan tidak memiliki cukup uang. Memiliki banyak anak dan sumberdaya yang terbatas menyebabkan orang tua lebih memprioritaskan pendidikan untuk anak laki-laki daripada anak perempuan.

On the other hand there are many people who do not realize about family planning. Families have many children and not much money. Having many children and limited resources make many parents give more priority to education for boys than for girls.
Tetapi anak perempuan harus mendapatkan hak yang sama seperti anak laki-laki untuk pendidikan yang baik! Ibu memiliki tanggungjawab yang sama besar dengan Bapak. Perempuan yang berpendidikan baik memberi anaknya peluang hidup yang lebih baik!

But girls should have the same right as boys to a good education! Mothers have as much responsibility as fathers. Well educated women give their children a better chance!

Kasus ini disumbangkan oleh
Suggested by: Ali Alatas, Basri, Andi Basniani, Mariati, Jumriati
(from South Sulavesi), and Nurhayati, Nasionah, Nur Azizah, Yuliana, St Nurbayani
from Lombok (all from Indonesia, May 2005)